Mengenal Lingkungan Azalea; Situ Cilodong, Menjaga persediaan Air

22 06 2009
100_4361

Situ Cilodong; di seberang kejauhan perumahan Kalibaru Permai

Bagi kita warga Azalea, barangkali saat ini sedang mencoba mengenal lingkungan tempat tinggalnya. Bisa jadi kita sedang bertanya-tanya ada apa saja sih di seputar Azalea? Ya ada sarana bermain water park, ada ruko, ada pasar tradisional, ada pusat perkantoran. Nah, bagi Anda yang belum tahu, ada sebuah situ (semacam danau) di daerah Cilodong. Kurang lebih 5 kilometer di sebelah timur kompleks Sektor Azalea. Depok memang memiliki banya situ. Bahkan, di enam wilayah kecamatan terdapat 26 unit situ. Situ-situ tersebut selama ini menjadi daerah resapan air.

Situ tersebut teletak di pinggir jalan Abdul Gani. Situ ini cukup luas dan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk memuaskan hobinya memancing, banyak juga pengunjung yang datang sekedar untuk melihat-lihat keindahan danau yang sekarang tampak bersih karena sementara ini sudah tidak ada lagi tanaman enceng dan teratai yang sebelumnya pernah memenuhi hampir separuh luas danau.

Di sekeliling Situ sudah di buat jalan cor yang cukup untuk satu buah mobil, sayangnya belum semuanya di cor dengan sempurna sebagian masih berupa conblok yang sudah lepas disana sini tetapi ini Cuma sekitar 25 persennya saja, selain itu sudah bagus. Jadi bagi Anda yang suka olahraga lari pagi atau sore bisa memanfaatkan jalan ini.

100_4357

Pintu gerbang Situ

Untuk yang hobi memancing di sekitar danau terdapat banyak warung-warung yang menyediakan perlengkapan memancing, jadi kalau anda tertarik memancing silahkan datang tanpa repot membawa alat pancing atau umpan pancing segala.

Situ Cilodong juga dipakai para atlit kayak dan kano Kota Depok untuk berlatih pada hari Sabtu atau Minggu. Kayak yang digunakan ada yang untuk 1 orang, 2 orang dan 4 orang. Sekedar untuk pengetahuan, perbedaan dari keduanya adalah jika didayung disebut kayak, sedangkan jika yang mendayung sambil berdiri disebut Kano.

Pada hari Ahad, 17 Agustus 2008 Warga Depok pernah merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus dengan menggelar acara ngubek situ. Ribuan warga menceburkan diri ke Situ Cilodong, Kecamatan Sukmajaya, untuk beramai-ramai menangkap ikan dengan berbagai cara.

Pesta rakyat khas Depok ini tak hanya diikuti warga kota tersebut, tetapi juga warga dari berbagai daerah lain di sekitarnya, termasuk Bogor dan Jakarta. Ketua panitia acara ngubek situ, Mulyono, mengungkapkan, untuk acara ngubek situ kala itu ia menebar sedikitnya 9,5 kuintal ikan berbagai jenis di Situ Cilodong, termasuk bawal, lele, emas, dan mujair. Sebelum terjun ke dalam situ, setiap peserta harus membeli kupon yang harganya bervariasi, antara Rp 10.000 dan Rp 100.000, sesuai alat yang dipakai.

Situ Cilodong dalam sejarahnya ternyata juga pernah mengalami kerusakan. Namun sudah pernah diperbaiki. Disebutkan tahun 2004, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok pernah menyebutkan 26 situ yang ada di Kota Depok tercemar limbah berbahaya. Salah satunya adalah

100_4355

Sebuah papan peringatan dari Pemkot Depok

Situ Cilodong. Akibatnya, kualitas air situ tersebut menjadi buruk dan tidak layak untuk tempat budidaya ikan. Dari 26 situ yang tercemar di Depok, Situ yang dinilai terparah adalah Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug, Situ Tipar di Kelurahan Mekar Sari, Situ Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Situ Gadog di Kelurahan Cisalak Pasar, Situ Jatijajar di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Cimanggis, Situ Pengarengan di Kelurahan Bhakti Jaya, Situ Cilodong di Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukma Jaya, dan Situ Rawa Besar di Kelurahan Depok, Pancoran Mas. Kepala BLH Kota Depok Rahmat Subagio, mengatakan data tersebut didapat berdasarkan laporan dari Kelompok kerja (Pokja) Situ di setiap kelurahan kala itu. Selain tercemar limbah rumah tangga, beberapa situ juga tercemar limbah industri.

Kerusakan ini sebenarnya buah dari lantaran tidak dirawat. Sehingga luasnya berkurang dan terus menyempit akibat terdesak pertumbuhan permukiman liar. Kabarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tak punya dana untuk menyelamatkan semua situ. Itu sebabnya, Pemkot Depok ‘nekat’ meminta bantuan dana ke Pemerintah Pronvisi (Pemprov) DKI Jakarta pada tahun 2004.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok Herman Hidayat mengakui Pemkot Depok meminta bantuan dana ke DKI Jakarta. Selain itu, katanya, Pemkot Depok juga sudah berkoordinasi dengan Pemprov DKI untuk menyelamatkan situ-situ. “Pemprov DKI Jakarta sudah memberi dana Rp 1 miliar untuk menyelamatkan Situ Tipar di Kecamatan Cimanggis. DKI mau membantu karena situ itu berada di perbatasan Depok dan Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan, tahun 2004 situ seluas 5 ha itu sudah dikeruk karena sangat dangkal akibat sedimentasi. Kelak juga dilakukan penurapan guna mengembalikan fungsi situ sebagai tangkapan air. “Selain Situ Bahar, Situ Citayam, Situ Cilodong, dan Situ Sidamukti juga telah dinormalisasi menggunakan dana Rp 850 juta dari APBD Kota Depok,” katanya.

Camat Sukma Jaya Musit Hakim, juga pernah mengakui bahwa dua situ di wilayahnya tidak terawat, yakni Situ Pengarengan dan Situ Cilodong. Seperti Situ Pengarengan, paparnya, tercemar limbah rumah tangga. Selain itu, dinding tanggul situ sudah keropos, sehingga sewaktu-waktu bisa jebol. “Saya sudah melaporkan kondisi Situ Pengarengan dan Situ Cilodong ke Wali Kota agar mendapat perhatian,” tuturnya.

100_4363

dua anak sedang mancing di salah satu pintu air pembuangan

Tahun 2004 pemerintah pusat pernah menganggarkan dana Rp 100 miliar untuk melakukan perbaikan sarana air di Jakarta dan sekitarnya. Proyek perbaikan dan pengembangan sarana air di tahun 2004 itu akan dikelola oleh Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (PIPWSC).

Dengan anggaran itu, PIPSWC yang berada di bawah Direktorat Sumber Daya Air Wilayah Tengah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil), tahun itu mengerjakan beberapa proyek pembangunan sarana pengendalian banjir, pengamanan pantai, pembangunan proyek Banjir Kanal Timur, dan pengelolaan sumber daya air di Jakarta.

Untuk diketahui, program kerja PIPSWC meliputi pengendalian banjir dan pengamanan pantai, proyek yang akan dikerjakan adalah pembangunan prasarana pengendalian banjir. Yaitu, proyek normalisasi dan pengamanan sungai, waduk dan pompa, atau pintu air. Anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini adalah sebesar Rp 15,5 miliar. Proyek normalisasi ini termasuk pengerukan dan perbaikan yang akan dilakukan di Cengkareng

Drain (1 kilometer), Kali Mookervart (1 kilometer), perbaikan tebing kali Ciliwung di Katulampa (0,8 kilometer), pengerukan dan penguatan tebing Banjir Kanal Barat, perlindungan dan penguatan tebing Kali Bekasi (2 kilometer), perbaikan dan pemeliharaan pompa Ancol, dan perbaikan Kali Tanjungan.

Untuk program pengembangan dan pengelolaan sumber air akan menitikberatkan pada pembangunan jaringan drainase Kebun Raya Bogor dan rehabilitasi waduk/bendung-bendung embung. Sepuluh lokasi yang akan direhabilitasi atau dikeruk adalah Situ Ciriung, Situ Pengasinan, Situ Rawa Sudat, Situ Kelapa Dua (tahap II), Situ Kemang, Situ Rawa Jejer, Situ Gunung Puteri, Situ Citayam dan Cibeureum, Situ Rawakalong dan Cikaret, dan Situ Moyang.

Di samping itu, pemeliharaan situ akan dilakukan di 14 lokasi, yaitu Situ Gede, Situ Babakan, Situ Kebantenan, Situ Cangkring, Situ Cibubur, Situ Cicadas, Situ Pondok Cina, Situ Pedongkelan, Situ Cilodong, Situ Cicuruy, Situ Pladen, Situ Iwul, Situ Cikeas, dan Situ Burung. Total biaya yang dianggarkan untuk pengembangan dan pengelolaan sumber air ini adalah sebesar Rp 8,37 miliar.

Jadi Situ Cilodong ini sebagai bagian dari situ-situ yang dimiliki Depok telah mendapat program perawatan dari pemerintah.

Sebagai warga Azalea, bila Anda ingin melihat lebih dekat dan mengenal apa saja yang ada di seputar Azalea Anda bisa berkunjung ke sana. Bila naik kendaraan sendiri Anda bisa melalui rute jalan boulevard GDC ke arah selatan (Pasar Pucung, sektor Melati), kemudian belok kiri di perempatan depan pintu gerbang Sektor Melati. Kemudian di perempatan jalan Abdul Gani belok kanan. Kalau mau naik angkutan umum, Anda bisa naik angkot lingkungan milik pengembang GDC, lalu turun di depan pintu gerbang sektor Melati. Kemudian naik angkot D09, turun di perempatan Jalan Abdul Gani. Kemudian jalan kaki. [diolah dari berbagai sumber]


Tindakan

Information

10 tanggapan

23 06 2009
Ade 'Bokhi' Hardiansyah

wah info yang berharga pak sur…terima kasih, tapi situnya aman ngak?, klo jebol nyampe azalea ngak? maklum pak zul (situ gintung) bikin deg2an……

23 06 2009
Suriani

pak, yang nulis artikel bukan saya :D
artikel itu ada di blog http://sektorazalea.wordpress.com/
perkiraan saya, penulisnya adalah pak lais abid W6/22 :lol:

siapa saja boleh menulis artikel, untuk login gunakan saja:
Nama Pengguna/Username: azaleaku
Kata Sandi/Password: azalea2008

23 06 2009
Novalia Sumawidjaja

boleh tuh pak…ide bagus, rekreasi yang murmer :)
kalo di sungai azalea sendiri kan dah ad pembenahan garis sempadan sungai (gss)…dah tuntas blom ya?

24 06 2009
Arif Satriyo

nais inpo gan… :)

25 06 2009
joel_212

tks info…., berbagi ilmu dalam bentuk tulisan, merupakan salah satu amal ibadah yang baik , apalagi bermanfaat untuk lingkungan.

29 06 2009
dede

Ini ada berita yang terkait dengan situ di Depok untuk tahun 2009

Lima Situ di Depok Berbahaya
Selasa, 16 Juni 2009 | 04:03 WIB
DEPOK, KOMPAS – Situ Pedongkelan di Kota Depok berada dalam kondisi kritis dan berisiko menimbulkan bencana. Anggota DPRD Kota Depok mengimbau Pemerintah Kota Depok memberikan perhatian khusus pada situ-situ yang berada di wilayahnya, khususnya Situ Pedongkelan.

Kondisi Situ Pedongkelan sudah sangat rawan. Dinding turapnya mulai retak-retak. Keadaan ini sangat membahayakan warga sekitar,” kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Depok Wahyudi, Senin (15/6).

Wahyudi mengkhawatirkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, akan terjadi abrasi pada tanggul situ yang berlokasi di Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, tersebut.

Kekhawatiran lain menyangkut kemungkinan terjadinya bencana besar karena situ berlokasi di daerah permukiman padat. ”Di balik tanggul situ seluas 6 hektar itu ada sekitar 2.500 warga yang tinggal di perkampungan yang letaknya lebih rendah 10 meter sampai 20 meter di bawah tanggul,” ujar Wahyudi.

”Dengan membiarkan kondisi tersebut, ada kesan Pemkot Depok tidak peduli. Beberapa waktu lalu dinas terkait pernah melakukan pengecekan di lapangan, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjutnya,” papar Wahyudi, yang juga bilang bahwa pembiaran ini ironis mengingat Situ Pedongkelan terletak tidak jauh dari Jalan Raya Bogor dan di sekitarnya terdapat beberapa industri besar.

Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Depok menyanggah pendapat bahwa Situ Pedongkelan kondisinya mengkhawatirkan. ”Tanggul Situ Pedongkelan masih kuat dan memenuhi syarat,” kata Kepala Seksi Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas BMSDA Kota Depok Arga Darma Tubagus kepada wartawan, kemarin.

Namun, data yang ada pada Dinas BMSDA menunjukkan, kecuali Situ Pedongkelan, setidaknya masih ada empat situ lain di Depok yang keletakannya mirip dengan Situ Gintung, yang tanggulnya baru-baru ini jebol, yakni lebih tinggi dari permukiman penduduk di balik tanggulnya.

Menurut Arga, situ-situ tersebut adalah Situ Asih Pulo, Sawangan, Pengarengan, dan Situ Bahar. Kondisi ini, tambah Arga, membuat pihaknya memberikan perhatian khusus.

”Situ-situ itu juga mendapat perhatian khusus karena merupakan tempat penampungan air Sungai Ciliwung sebelum mengalir menuju ke wilayah DKI Jakarta,” kata Arga. (muk)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/16/04031334/Lima.Situ..di.Depok.Berbahaya

Surat Pembaca Kompas:
Situ di Depok dan Banjir

Tulisan di Kompas, 16 Juni 2009, ”Lima Situ di Depok Berbahaya”, perlu ditanggapi. Selaku orang yang tinggal di Depok, saya ingin menambahkan bahwa dua situ yang dapat menimbulkan bencana banjir di Depok adalah Situ Pladen dan Situ Lio yang terletak di sekitar Jalan Arif Rahman Hakim, Depok.

Pada 8 April 2009 terjadi banjir besar setinggi lutut di Jalan Arif Rahman Hakim dan ini baru saya alami sejak tinggal di sini pada 1996. Pada 1996, pemeliharaan Situ Pladen masih dilakukan dengan baik, ada bakti sosial yang dilakukan ABRI Masuk Desa dengan melakukan pengerukan danau dan menjaga kebersihan saluran air.

Namun, pada saat ini danau ini cenderung mengecil karena dilakukan urukan tanah dan dibangun rumah/bangunan, ditambah lagi ada jalan layang yang dibangun di dekatnya. Selaku warga yang tinggal di dekat danau Pladen ini, tentu saya dan warga di Beji Timur sangat khawatir akan masa depan daerah ini, terutama saat musim hujan. Bagaimana Bapak Wali Kota Depok? Mohon dilakukan perawatan Danau Pladen agar tetap dapat menampung hujan dan tidak terjadi banjir lagi. SUPRIYO SUBAGYO Jalan Amonia I, Beji Timur, Depok

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/29/05165333/redaksi.yth

9 07 2009
Rini

Terima kasih atas infonya. Hari ini di Media Indonesia ada sebuah artikel yang mengangkat tentang buruknya kualitas air di Depok akibat pencemaran rumah tangga dan industri. saya saat ini sedang menjajaki untuk membeli rumah di GDC, dan jadi agak khawatir membaca tulisan ini. Boleh mohon sharing informasi kepada Bapak dan Ibu yang sudah lama tinggal di GDC, bagaimana kualitas air yang digunakan sehari-hari di rumah Bapak Ibu sekalian? Terima kasih banyak atas informasinya.

9 07 2009
Suriani

to: Rini
Saya mulai menempati rumah di GDC Sektor Azalea sejak 8 Maret 2006. Untuk air, awalnya saya menggunakan sumur timba sedalam 4 meter dan airnya jernih sekali. Karena rumah mau direnovasi (belakang ditutup dan dikeramik), lalu sumur saya tutup dan digantikan dengan sumur bor sedalam 20 meter. Airnya juga jernih. Sampai sekarang sih belum ada keluhan tentang air. :lol:

31 08 2009
zhaa

maaf pak . di comment sblmny ,
katanya boleh nulis di blog azalea .
itu infony khusus ttg azalea ajah ?!

1 09 2009
SUR

Tidak khusus tentang azalea sih….
Tadi sudah saya ADD sebagai ‘penulis’ di blog ini. Jadi setelah login di WP sebagai diri-sendiri, bisa juga masuk ke blog ini :lol:

Tinggalkan komentar