Gambir, Warta Kota
PT Kereta Api (PT KA) akan mengimpor 10 set rangkaian atau 100 gerbong kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang pada 2009 ini. KRL itu masih menjadi pilihan lantaran harganya yang jauh lebih murah dengan kondisi sangat layak dan sesuai rel di Indonesia, khususnya Jabodetabek. Demikian diungkapkan Direktur Utama PT KA Ronny Wahyudi di kantor Jakarta Railway Center di Jalan Juanda I B, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (6/1).
Tahun ini PT KA akan terus menggenjot perbaikan sarana dan prasarana untuk KRL Jabodetabek. Ia mengatakan, KRL ekonomi AC menjadi pilihan sebagian besar pengguna KRL. Selama 2008, PTKA menjalankan KRL ekonomi AC di setiap jalur atau koridor, bahkan hingga larut malam. Rencananya, tahun ini KRL Ekonomi AC akan dijalankan di beberapa koridor, termasuk Kota-Tanjungpriok.
Harga KRL bekas Jepang hanya Rp 900 juta hingga Rp 1 miliar, sedangkan jika membeli KRL baru buatan PT Inka, Madiun, harganya Rp 10 miliar. “Orang Jakarta mulai senang naik KRL ekonomi AC karena tarifnya murah tapi tak panas,” ungkapnya.
Sementara itu, perkembangan KRL ekonomi masih menemui berbagai kendala. KRL Ciliwung Blue Line yang berjalan melingkar hingga kini juga belum optimal. “Di jalur melingkar itu banyak sekali perlintasan (dengan jalan raya). Kalau kita tambah banyak, bisa macet total di DKI ini,” tutur Ronny.
Beberapa stasiun juga masih kumuh dan belum digunakan untuk berhenti, seperti Stasiun KA Mampang, Karet, Rajawali, dan Gang Sentiong. Ronny mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Gubernur DKI Fauzi Bowo untuk mengoptimalkan KRL bagi masyarakat Jakarta.
Pada 2010 PT KA Juga menargetkan sebanyak 63 stasiun di Jabodetabek sudah aktif menggunakan tiket elektronik. “Kalau kita terapkan (tiket elektronik) sepotong-sepotong, misalnya jalur Bogor saja, susah dan tidak efektif,” tuturnya.
Sementara itu, selama musim liburan Natal dan Tahun Baru, jumlah penumpang mencapai 1.977.474 orang atau meningkat 26 persen dibandingkan tahun lalu. (sab/get)
by SUR


Ngomong-omong berapa persen ya kira-kira warga Azalea yang menggunakan KRL? Kalau banyak khan bisa bikin komunitas KRL-Azalea. Trus kita juga mendesak misalnya KRL ekonomi tetap dipertahankan, kalau-kalau nanti digusur sama KRL Ekonomi-AC….
Saya sekarang juga beralih ke KRL sejak adanya KLR Ekonimi AC; Biasa aja idenya KRL-Azalea; saya justru berbeda pendapat pak Darojat… harusnya KRL Ekonomi yang yang dengan standar KRL Ekonomi dengan fasilitas ber AC.
Justru saya sependapat mengusulkan kalau semua kereta minimal ya KRL Ekonomi AC… selain nyaman … faktor keamanan lebih baik sich… Misal pintu tertutup saat kereta jalan…
Kalau masalah harga .. kalau memang bisa di hitung ulang bisa turun lebih senang lagi….
Jadi maunya kerata dengan fasilitas KRL Eko AC dengan Tarik Ekonomi atau lebih murah … begitu kali ya pak
sayah juga pengguna sepur listrik, tapi ekonomi biasa jam 05.23 (berangkat pagi), ekspres 13.40 (berangkat siang), ekonomi AC 07.28 (pulang pagi dari kota) atau jam 08.00 (dari kota juga) ^_~
Pada saat awal pindah ke Sektor Azalea Maret 2006, saya menggunakan KRL Ekonomi (abonemen Rp 45.000) berangkat pagi jam 6.50. Sempat beberapa kali bergelantungan di dekat pintu. Juga sempat tas ransel yang saya taruh di depan (bukan di punggung) sobek kena ’silet’.
Tapi setelah ada AC Ekonomi, saya beralih ke AC Ekonomi (abonemen Rp 155.000) berangkat 7.25 (terkadang 5.45 atau 6.14). Tapi karena pulang kantor jam 16.00, terkadang kalau KRL ekonomi biasa sedang longgar, saya tetap ikut. Tapi kalau sampai jam 17.15 tetap padat penumpang, saya akan ikut AC Ekonomi ke Tanah Abang
saya juga pengguna KRL, naik KRL eksp jurasan depok – tanah abang jam 06.35 turun ST sudirman jam 7.15 wib , apabila berangkat agak siang sedikit naik KRL eksp jam 07.12 tujuan jakarta, pulang naikKRL Eksp dari ST sudrmin menuju depok jam18.45 atau 19.20 , apabila lembur kerja sampai malam naik KRL AC dari ST sudirman Jam 21.00 wib dari ST sudirman, terkadang kerja sampai larut malam baru naik KRL AC jam 23.00 wib dari ST cawang. (joel )
saya pengguna KRL. Selama hampir 7 bulan saya tinggal di Depok baru sekali saya naik angkot. Setiap hilir mudik Jakarta – Depok pasti naik KRL. Kadang pakai AC ekonomi seringnya pakai ekonomi non AC. Sepertinya KRL tetap angkutan favorit warga Depok yang tiap hari ke Jakarta. Makanya saya sejak awal sudah jadi penggemar web http://www.krlmania.com