Jalan Tol Dibangun, Properti di Depok Makin “Montok”

30 12 2008

Profesinya cuma ketua rukun tetangga, bukan selebritas yang kerap diincar para jurnalis untuk diwawancara. Tapi, selama dua pekan terakhir, Syahruddin (50) tampil bak pesohor. Belasan warga RT 01/07 Kelurahan Bhakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, tiap hari menyambangi kediaman Syahruddin.
Selidik punya selidik, rupanya, warga di daerah tersebut penasaran dengan rencana pengembangan ruas jalan tol Cinere-Jagorawi sepanjang 14,7 kilometer. Warga setempat resah—dan perlu bertanya banyak hal kepada Syahruddin—atas rencana pemerintah membangun jalan tol tersebut. Pasalnya, pengembangan jalan tol tersebut pasti akan menggusur tempat tinggal mereka. Maklum, Syahruddin dan ratusan warga Kelurahan Bhakti Jaya tinggal, berada di jalur pipa gas.

Pengembangan jalan tol Cinere-Jagorawi, rencananya berada 60 meter dari jalur pipa gas, dari Cimanggis menuju Cinere. “Mereka pada nanyain soal besarnya ganti rugi bila ramah mereka ikut tergusur,” ujar Syahruddin kepada Investor Daily di rumahnya, baru-baru ini.

Menurut Syahruddin, warganya mendukung program pemerintah untuk membangun ruas jalan tol di Kota Depok. Namun, atas nama warga, dia meminta pemerintah dan konsorsium pengembangan jalan tol tersebut untuk mensosialisasikan besaran ganti rugi secara transparan. “Yang penting tidak dirugikan dan didzalimi,” katanya.

Harapan transparansi saat pembebasan lahan untuk pengembangan jalan tol tersebut sejatinya tak hanya milik warga Kelurahan Bhakti Jaya. Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Pemkot Depok, perumahan warga yang akan terkena gusur antara lain berada di Kecamatan Beji, Limo, Cimanggis, dan Sukmajaya. Sementara, permukiman warga yang tergusur berada di titik temu jalan tol dan jalan utama, seperti di sekitar Jalan Cinere Raya, Jalan Krukut, Jalan Margonda, Jalan Raya Bogor, dan jalan tol Jagorawi.

Pejabat Pelaksana Teknis KepaIa Dinas PU Pemkot Depok Oka Barmana menjelaskan, perumahan yang akan tergusur di jalur tol Cinere-Jagorawi antara lain, Pesona Khayangan, Pondok Duta Selatan, Nusa Dua, Griya Cinere 1, Bukit Cinere, Harapan Baru Taman Bunga, perumahan Pertamina, Bukit Cengkeh, dan Perumahan Adhikarya.

Meski begitu, menurut Oka, jalur perumahan yang berada di sepanjang jalur pipa gas belum merupakan hasil final. Pemkot Depok masih menunggu rancangan final dari Departemen PU. “Ini belum final. Mungkin saja bisa berubah,” ungkapnya.

Kecuali perumahan dan permukiman di ruas jalan tol Cinere-Jagorawi, sejumlah kompleks peramahan di jalur pengembangan ruas jalan tol Citayam-Antasari (21,7 km) akan tergusur. Kompleks perumahan yang akan terkena gusur pengembangan jalan tol jalur tersebut antara lain Bukit Cinere, Villa Santika, Griya Sekar Melati, Perumahan Departemen Kehakiman, dan Krukut Indah.

Sementara itu, permukiman warga yang akan tergusur ada di sekitar Jalan Citayam (Bojong Gede), Jalan Krukut, Jalan Bukit Cinere, Jalan Raya Citayam, Jalan Raya Sawangan, Jalan Samudra, Jalan Swadaya, Kelurahan Rangkapan Jaya, Jalan H Nasir, dan Kelurahan Cipayung Jaya.

Walikota Depok Nur Mahmudi Isma’il berharap, pengembangan dua ruas jalan tol ini cepat teralisasi. Agar proses pembangunan berjalan lancar, Walikota melarang warga, yang nantinya akan terkena gusur pembangunan jalan tol, melakukan transaksi jual tanah.
Hal tersebut ‘terpaksa’ dilakukan untuk menghindari spekulan tanah. “Kami ingin semua proses pembangunan jalan tol ini berjalan lancar,” ujarnya singkat, usai ditemui melakukan proses penandatangan proyek pembangunan fly over Arif Rahman Hakim, di
kantornya, Rabu (2/8).

Sentra Bisnis
Secara terpisah, Kepala Bidang Tata Kota Pemerintah Kota (Pemkot) Depok Diah Irwanto mengatakan, pembangunan dua raas jalan tol di wilayah Depok akan menciptakan delapan sentra titik bisnis baru di kawasan seluas 20.029 hektare ini. Delapan sentra bisnis ban: tersebut adalah Cinere, Sawangan, Citayam, Cimanggis, Cisalak, Tapos, Bojong Sari, dan Krukut.

Menurut Diah, sentra bisnis di Depok yang saat ini terpusat di Jalan Margonda Raya, dengan kehadiran jalan tol tersebut, akan merata di enam wilayah Depok.

“Pembangunan di Depok akan semakin terintegrasi. Rencananya, wilayah Jalan Margonda Raya akan dijadikan pusat perekonomian bisnis konservasi, perdagangan, komersial, dan jasa. Tidak hanya itu, sepanjang jalan tersebut juga akan dijadikan wilayah konservasi budaya, pendidikan, riset, dan teknologi,” kata Diah ketika ditemui Investor Daily di kantornya, Depok, Rabu (2/8).

Incaran Pengembang
Sebelum pemerintah menyiapkan pengembangan dua ruas jalan tol, Depok menjadi incaran pengembang. Menurut Diah Irwanto, para pengembang papan bawah hingga atas, beramai-ramai membangun proyek residensial dan properti komresial di wilayah ini.

Hingga 2003, Pemkot Depok setidaknya telah menerbitkan 92 izin lokasi proyek yang tersebar di seluruh Depok.

Saat ini jumlah pengembang yang meminta izin lokasi kepada Pemkot Depok pasti lebih banyak dibanding tiga tahun lalu. Maklum, bisnis properti di kawasan Depok sangat menggiurkan. Betapa tidak? Wilayahnya yang sangat strategis—cuma beberapa kilometer dari Jakarta—dan alam yang masih sejuk, menjadi salah satu daya tarik pengembang untuk berbisnis di daerah tingkat dua yang dihuni 1,4 juta jiwa penduduk ini.

Sejumlah proyek ‘kakap’ saat ini berdiri megah di Depok. Di sektor properti komersial, misalnya, saat ini Depok memiliki enam pusat perbelanjaan berskala besar, mulai dari Depok Plaza, Mal Depok, ITC Depok, Depok Town Square, Margo City Square, hingga Depok Town Center.

Kecuali itu, para pengembang yang membuka usaha di Depok menyediakan berbagai rumah dari bermacam tipe kepada konsumen.

Dalam buku Rumah untuk Anda yang diterbitkan majalah Properti Indonesia, pekan lalu, saat ini sekurangnya 65 kompleks perumahan ditawarkan kepada konsumen di Depok, mulai hunian kelas bawah hingga papan atas. Proyek properti residensial yang ditawarkan di Depok antara lain perumahan Bela Casa (dibangun oleh PT Karunia Sarana Binangun), Bukit Cinere Indah (PT Bukit Cinere Indah), Bukit Golf Residence (PT Karya Cantika Kusuma), dan Depok Maharaja (PT Abadi Mukti Guna Lestari).

Selain itu, kompleks perumahan Graha Cinere (PT Megapolitan Developments), Duta Gema Pesona (PT Pedoman Tata Boga), GriyaTugu Asri (PT Daksa Giya Jaya), Griya Sakinah (PT Bina Karya Mandiri), Permata Cimanggis (PT Puninar Texton Asia), Raffles Hills (PT Gunungsubur Sentosa), Sawangan Permai (PT Arsy Indah Utama), dan masih banyak lagi.

Maraknya pengembangan property di Depok, berpengaruh pada harga tanah di kawasan tersebut. Sebagai gambaran, di lokasi strategis (di Jalan Margonda Raya, red), pada 2004, harga tanah hanya sebesar Rp 2,5 juta/m2. Kini, harga tersebut naik menjadi Rp 4,5 juta/m2.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit memperkirakan, pengembangan dua ruas jalan tol di wilayah Depok akan menarik minat pengembang untuk membangun ramah di daerah tersebut.

Ia memprediksi, peramahan skala menengah-atas dalam waktu dekat akan mulai dibangun di jalur Depok-Sawangan-Cinere. Menurut Panangian, setelah dua jalan tol beroperasi, akan terjadi pergerakan/pergeseran warga dari Jakarta ke Depok. Warga yang tinggal di kawasan Pasar Minggu dan sekitarnya akan ‘lari’ ke Depok dan Cinere.

“Sebagian besar warga yang pindah beralasan untuk mencari tempat tinggal yang lebih representatif, karena kawasan Pasar Minggu bisa dikatakan sudah sangat sumpek dan crowded” ujarnya.

Di sisi lain, pergerakan orang ke wilayah Depok, berpengaruh pada harga rumah di sana. Penelisikan Investor Daily menunjukan, saat ini di Depok sulit menemui ramah yang dijual seharga Rp 100 juta ke bawah. Kalau pun ada, lokasinya sangat jauh dari pusat kota Depok.

Di kawasan Depok, harga rumah termurah tersedia di peramahan Taman Melati Sawangan. Tipe ramah 27/72 yang dibangun pengembang PT Adhi Realty ini, dilepas seharga Rp 94,3 juta. Sedangkan peramahan Permata Depok yang dibangun PT Citrakarsa Hansaprima di Jalan Citayam Raya, tipe 28/72 dijual seharga Rp 98 juta. Lokasinya pun sebetulnya berada di luar Kota Depok.

Masih di rumah tipe kecil, peramahan Taman Sari Puri Bali di Jalan Raya Sawangan yang dikembangkan PT Wijaya Karya Realty, harganya sudah selangit. Tipe 27/72 dijual seharga Rp no juta. Selain itu, ada juga perumahan Villa Bougenville Depok yang dikembangkan PT Daksa Tata Griya di Jalan RTM Cimanggis, Tugu. Harga termurah tipe 36/78 dijual seharga Rp 170 juta.

Menariknya, kendati harga ramah tipe kecil tersebut harganya cukup tinggi, toh konsumen tetap saja memburunya, apalagi bila dua raas jalan tol nantinya beroperasi. Depok benar-benar akan “montok” bagi usaha properti! (heriyono)

Sumber: Investor Daily, 5 Agustus 2006

About these ads

Aksi

Information

3 responses

5 03 2009
dina

siang pak,
ngomong2 sekitar properti,apakah bapak inigin mengethui lebih dalam tentang bisnis properti??

kebetulan saya bekerja sebagai staff “School of Property” do you know PANAMGIAN SCHOOL OF PROPERTY????

u/ lebih jelas bapak bisa website kami di. http://www.panangian.com/
atau bisa hub saya di e-mail: “sweet_dhien86@yahoo.com”

6 03 2009
dina

oia,
untuk Informasi & Pendaftaran :

BBD PLAZA lantai 26
jl. imam bonjol N0. 61
Jakarta 10310
Telp : 021 . 3908308, 3908288
Fax : 021 . 3103771, 2303987

Up : Dina ( Marketing Executive )
sweet_dhien86@yahoo.com
dinamariama@gmail.com

31 07 2009
mumet

ini jalan jadi dibangun gak sih, sampai pusing 7 keliling nungguinnya, klo gk jadi diumumin saja segera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: