Tulisan ini diambil dari sebuah mailing list. Pernah juga dimuat di milis sektor azalea. Untuk menggugah semangat saja, tulisan ini dimuat lagi di sini.

From: “magdalena merry” <merry_magdalena@…>
Tulisan ini saya buat dari lubuk hati yang paling dalam sebagai orang yang mengantongi KTP Depok. Saya tulis di sini sebab saya bingung mau diupload ke blog mana, blog saya banyak banget dan bahkan sampai lupa URL dan passwordnya. Nanti kalau sudah mood log in, baru saya upload deh.
Kata orang bijak, cintailah dirimu sebelum mencintai orang lain. Saya sudah. Lalu cintailah keluargamu. Sudah juga. Lalu cintailah lingkunganmu. Nah, lingkungan saya adalah Depok. Dari mencintai lingkungan ini baru bisa berkembang jadi mencintai Indonesia.
Nah sekarang saya mau sharing kenapa saya jatuh cinta pada kota yang sudah ada sejak zaman Belanda doeloe ini.
Siapa tahu someday saya punya interes bidang politik ingin jadi walikota Depok? Uups, kok jadi muluk begitu. Gimana mau jadi walikota, wong jadi diri sendiri aja ndak sabaran.
Ini ada sejumlah alasan kenapa kita harus mencintai Depok.
1. Depok bikin awet muda, sebab kita selalu dikelilingi mahasiswa, entah itu mahasiswa S1, S2, S3 atau bahkan mahasiswa abadi. Berseliwerannya mereka ini membuat kita merasa syah-syah saja bercelana jeans belel, kaos oblong dan sepatu kets kesana kemari tanpa peduli uban di kepala kian bertambah. Kita serasa sama dengan para mahasiswa itu.
2. Akibat menjamurnya kampus, mahasiswa dan kos-kosan di Depok, akibatnya jajanan dan warung makan di Depok memasang harga standar anak kos. Imbasnya, saya yang bukan anak kos melainkan kontraktor alias pengontrak rumah (sebenernya sudah punya rumah tapi harus dibenahi dulu kalau mau ditempati), ikut menikmati jajanan nan murah nan lezat itu. Dengan Rp.2000 saja kita sudah bisa menyantap nasi uduk gurih lezat bertaburkan bawang goreng, krupuk dan sambel kacang. Tambah tempe goreng tepung atau bakwa yah nambah Rp.500 saja. Mau lunch cukup ke warung Jawa Timuran di Margonda dekat Kapuk dimana kita bisa menikmati nasi pecel kumplit hanya dengan Rp.4500 saja. Murah bukan? Yang sedikit elit pun ada tapi tetap terjangkau, seperti Sroto Banyumas, Nasi Gudeg Miroso, Bakmi Margonda, dan seterusnya. Atau mau nyruput Es Pocong dan ngemil mendoan di pinggir jalan, di Kober ada tuh. Sekalian bisa ngeceng sama mahasiswa UI lah.
3. Udara Depok memang mulai panas dan lalulintas tambah macet. Tapi hawa segarnya masih lumayan sejuk di pagi dan malam hari. Beda deh. Begitu masuk perbatasan Depok, yakni belahan jalan (bukan belahan lainnya lho) akses UI – Kelapa Dua – Margonda Raya, maka langsung terasa atmosfer yang teramat beda. Baunya beda! Teman saya yang orang Jakarta saja terkagum-kagum dengan atmosfer Depok nan sejuk saat menginap di rumah saya. “Enak banget Mer, sepi, tenang, sejuk, serasa di alam pegunungan.” Halah sudah jangan berlebihan deh…hehehe. Kacian deh lu orang Jakarta!
4. Bukan hanya udara saja, tapi juga airnya! Ya, lokasi tempat tinggal saya belum terjangkau PAM, namun air tanahnya segar, murni, layak diminum, sesegar air mineral kemasan yang dijual. Dipakai mandi pun rasanya menentramkan jiwa raga. Ah kalau ini agak berlebihan kayaknya. Tapi percayalah, teman saya dari Jakarta juga bertestimoni (seperti di Friendster) bahwa air di rumah saya mengalir sangat deras, dan saat menyentuh kulit rasanya beda dengan air Jakarta yang sudah terkontaminasi oleh zat apa saja entah itu.
5.Orang Depok ramah-ramah. Salah satu alasannya adalah karena penduduk asli sini mengandalkan matapencarian dari kaum pendatang, entah itu anak kos, kontraktor, atau sekedar mahasiswa numpang lewat. Jadi kalau mereka ndak ramah, ya bisa kabur semua pendatang itu. Tapi saya sendiri sejak 2 tahun lalu sudah resmi secara de jure sebagai penduduk asli Depok, sebab sudah ber-KTP dan ber-KK (Kartu Keluarga, bukan Kusmayanto Kadiman) Depok. Bahkan sudah menjadi pemilik syah rumah mungil seluas 75m2 di tengah perkampungan Betawi Depok yang semangat kekeluargaannya sangat tinggi. Dengan keramahan itu, maka jangan heran kalau saya bisa kenal dengan tukang ojek, tukang bubur, penjaga warnet, satpam sekolah, tukang nasi uduk, preman gang, penjaga warteg, pengamen, penjaga lapak koran, dan sebagainya. Kemana kaki melangkah, disitu ada tegur sapa. Mengingatkan saya pada film fitkom barat Townies yang sempat ada di O Channel.
6. Semua ada di Depok. Mulai warteg lezat tapi murah, toko buku komplit dimana kita bisa baca gratisan asal kaki mau semutan, mall-mall elit buat cuci mata, hot spot gratis, bahkan JCO dan Starbucks yang digilai warga Jakarta itu pun ada. Sekolah dari yang murah sampai elit mencekik leher juga ada. Real estate elit pun berjejer sombong di sini. Tapi gubuk reyot kayak yang bertebaran di Jakarta? Sori lha, ngga ada di Depok! Ngga level deh!
7. Depok bebas banjir. Memang tidak semuanya. Ada beberapa lokasi yang mulai tergenang banjir belakangan ini akibat pemanasan global (cie, udah kayak pakar lingkungan kan gue?). Tapi dibanding Jakarta ya Depok ini bisa dikatakan antibanjir lah. Patokannya, kalau Depok sampai banjir ya berarti Jakarta udah kelelep lah. Gampang kan?
8. Warnet murah meriah! Ya, saya jadi malas ngantor akibat warnet berjejer rapi sepanjang jalan Margonda Raya. Warnet The Patch misalnya, ada paket pagi dimana dari jam 7 sampai 12 teng kita cukup membayar Rp.10.000 saja. Daripada saya ke kantor dengan biaya lebih mahal, rugi bandar tenaga, waktu, menambah sesak macet, stres dan mereguk karbondioksida, lebih baik saya nongkrongin warnet saja. Kenapa warnet? Sebab saya belum yakin dengan aneka aplikasi langganan Internet rumah. Selain banyak komplain soal Speedy yang speedless atau BigNet yang lemot dan sejenisnya, saya juga malas ribet-ribet ngatur setingan koneksi pribadi. Lagian sayang listrik, sayang PC, sayang laptop. Manfaatkan saja PC di warnet yang bisa kita pakai seenak udel menekan tombol keyboard seirama dengan emosi jiwa. kalau pakai laptop sendiri kan eman-eman. Mahal euy servisnya. Dari rumah dan mana saja, saya cukup puas dengan ponsel GPRS yang saya konek ke mode mobile sehingga lebih irit. Lho kok gaya bicara saya jadi kayak pakar IT???
Nah kayaknya segitu dulu alasan saya mencintai Depok. Lainnya belum terpkir. Warga Depok lain ada yang mau nambahin?
Obsesi saya adalah tetap mempertahankan kecantikan Depok seperti saat ini, bahkan lebih dipercantik. Misalnya taman kota atau jalur khusus motor agar lalulintas ndak serumit Jakarta. Perlu dipikirkan juga menggalakkan program KB dan membatasi pendatang. Tata kotanya juga harus diperhatikan agar jangan senasib dengan Jakarta yang nyaris ambles itu. Lantas kebersihan juga harus lebih dipelihara. Wah, kalo ini saya sudah persis walikota kan?
Merry Magdalena, Depok Lover, jurnalis, penulis, ilusionis (terhadap diri sendiri), manis, teman para saintis dan pianis, sedikit sinis, sarkastis, tapi tidak berkumis.
Diketik dari warnet murah meriah tapi aksesnya super cepat, PCnya keren dengan layar 17 inch, penjaga yang ramah sekali, dan AC sejuk, layanan delivey dari buryam, batagor, ketoprak dan somay.
Merry Magdalena
Reporter Harian Sore Sinar Harapan
www.sinarharapan.co.id
021-3912360/61 Fax 021-3912370


Iya udah pernah baca di milis kita ya…. tapi bisa lah ini dijadikan bukti kenapa kita memilih depok sebagai tempat tinggal kita sementara sembari mencari sumber kehidupan untuk cita cita balik kampung ….. di hari tua…. amien
Iya saya juga senang tinggal di Depok.. Kalau dilihat dari aspek geografi fisik, Depok memang berada pada lingkungan alam yang paling sehat di banding kota lain sekitar jakarta (khususnya Tangerang n Bekasi). Elevasi paling tinggi (udara lebih dingin), imbasnya bebas banjir, air tanah masih bagus karena secara regional air tanah mengalir dari bogor ke jakarta. Selain itu juga jauh dari laut jakarta (gak kena intrusi air laut). Jadi tidak heran kalau Depok menjadi incaran hunian dan harga tanah relatif lebih mahal dibanding tangerang or bekasi.
@Pak Exkuwin
Wah masak cuman tempat singgah aja.. Kalu saya udah betah mudah2an sampe kakek nenek nanti.
Saya Cinta Depok karena Rumah Saya di Azalea Depok..hihihihi,
coba klo sy masih kebagian warisan di Jakarta, pasti “terpaksa” masih tinggal di Jakarta hihihihi..
( mudah mudahan Depok sumpek nya nanti agak lamaan yah..)
Saya Pribadi lebih nyaman minggir ke Depok, daripada ke Bekasi atau Ciputat /tangerang, karena masih lebih Adem, belum ada ( atau belum banyak? ) Pabrik, yg berlomba bikin polusi, polusi udara, polusi suara dan Limbah beracun…
tapi macet nya Jl.Margonda Raya, lumayan bikin sebel…..
Alhamdulillah Allah SWT sdh memberikan Rezeki tempat berteduh Kami di Azalea tercinta, dengan semua kekurangan dan kelebihan nya.